6 Warna Warni Kebudayaan Suku Dayak Yang Menarik

Suku Dayak adalah penduduk asli Pulau Kalimantan, dimana masih bisa dijumpai penduduknya sampai saat ini. Suku ini juga sangat terkenal keunikan etnik dan warna-warni budayanya. 

Selain itu, suku ini juga dikenal sebagai suku yang memiliki warisan magis yang kuat. Sehingga menjadi simbol khas yang dimiliki oleh suku yang mendiami pedalaman tanah Borneo. 

Sejatinya, suku Dayak adalah imigran dari Provinsi Yunnan, China Selatan. Kemudian mereka bermigrasi ke bagian utara Pulau Kalimantan. 

Kebudayaan suku Dayak sangat beraneka ragam dan termasuk ke dalam suku yang besar. Dengan berkembangnya suku ini, membuat suku Dayak memiliki warna-warni kesenian yang menarik dan beragam kepercayaan.

Arti dari kata Dayak sampai saat ini masih menjadi perdebatan para ahli. Ada yang mengartikannya sebagai manusia pedalaman, bahkan orang yang tinggal di hulu sungai. Namun, ada juga yang Dayak sebagai karakteristik personal yang gagah, berani, kuat dan ulet. 

Sebenarnya suku Dayak sendiri keberatan dengan pemakaian nama Dayak, karena diartikan lebih negatif. Padahal, semboyan suku Dayak adalah “Menteng Ueh Mamut”, artinya seseorang yang memiliki kekuatan dan gagah berani, serta tidak mudah menyerah atau pantang mundur. 

Suku Dayak ini juga sangat besar karena terbagi menjadi 268 sub suku dan masih dibagi menjadi 6 rumpun, yaitu Rumpun Punan, Rumpun Klemantan, Rumpun Apokayan, Rumpun Iban, Rumpun Murut dan Rumpun Ot Danum.

Bagi Indonesia, memiliki berbagai kebudayaan adalah salah satu modal untuk memperkuat identitas suatu bangsa. Selain itu, keragaman budaya juga bisa diartikan sebagai komoditas nasional berupa produk untuk sarana dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Berikut ini adalah warna – warni kebudayaan suku Dayak yang menarik  yang wajib kamu ketahui.

  • Bahasa Suku Dayak

Suku Dayak memiliki 5 kelompok bahasa yang dituturkan oleh masyarakat Dayak, yaitu Barito Raya, Dayak Barat, Borneo Utara, Dayak Banuaka dan Melayik. Namun bahasa Indonesia juga sering dipakai.

Dari kelima kelompok bahasa tersebut, bahasa Dayak Kenyah adalah bahasa tertua. Tapi, jumlah penuturnya sangat sedikit. Hal ini terjadi karena masyarakat Dayak tinggal di Kalimantan Timur. Oleh karena itu, pemakaian bahasa daerah ini sudah mulai ditinggalkan.

Jadi, bahasa suku Dayak akan berbeda tergantung dimana mereka akan tinggal. Tapi saat ini sudah banyak yang tidak memakai bahasa daerah, karena tidak diajarkan bahasa ibu sedari dini. 

  • Adat Istiadat Suku Dayak

Salah satu tradisi yang dimiliki oleh suku Dayak adalah upacara adat Naik Dango. Naik dango adalah bentuk apresiasi kebudayaan adat masyarakat Dayak Kanayatn Kalimantan Barat, biasanya profesi suku Dayak ini adalah petani. 

Makna dari upacara adat Naik Dango ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia Tuhan kepada manusia, karena sudah memberikan padi sebagai makanan manusia. Padi yang digunakan menjadi berkat untuk manusia dan tidak cepat habis. 

Selain itu, upacara adat ini juga sebagai pertanda penutup tahun berladang dan sebagai sarana untuk bersilaturahmi serta mempererat hubungan persaudaraan atau solidaritas. 

  • Rumah Adat Betang

Rumah Betang atau rumah panjang adalah salah satu kebudayaan dari suku Dayak. Sampai saat ini rumah ini masih ditempati oleh masyarakat Dayak, terutama yang tinggal di sekitar hulu sungai. 

Rumah Betang ini memiliki ciri khas yang bentuknya memanjang dan memakai bahan material kayu. Rumah ini dibangun dengan bentuk seperti panggung yang tingginya mencapai 3 sampai 5 m.

Bahkan, rumah ini ada yang memiliki panjang sekitar 150 m dengan lebar 30 m, sehingga tetap aman kalau terjadi banjir.

Biasanya rumah ini dihuni secara komunal dan bisa menampung 100 sampai 150 orang. Bagian dalam rumah ini disekat memakai kamar untuk memberikan ruang khusus untuk setiap keluarga. 

Dengan adanya rumah tersebut, maka suku Dayak mengutamakan hidup dalam kebersamaan. Semua orang yang tinggal di rumah ini diatur oleh hukum adat khusus. Cara mengaturnya yaitu dengan berbagi makanan, keamanan sampai kehidupan berladang.

Nilai utama yang paling dimiliki dalam kehidupan di rumah Betang ini adalah nilai kebersamaan di antara para penghuni, terlepas dari berbagai perbedaan yang dimiliki suku Dayak. 

Disinilah kita bisa mengetahui bahwa suku Dayak adalah suku yang menghargai suatu perbedaan, agama ataupun latar belakang sosial.

  • Tarian Tradisional Suku Dayak

Suku Dayak memiliki tradisi menari yang selalu digunakan untuk berbagai ritual adat. Tarian ini juga dijadikan sebagai tarian tradisional asal Kalimantan Tengah. Karena penduduknya merupakan mayoritas penduduk Kalimantan Tengah.

Suku Dayak memiliki berbagai jenis tarian yang terkenal yang digunakan dalam ritual adat adalah sebagai berikut ini:

  • Tari Hudoq adalah bagian dari ritual adat yang dilakukan oleh masyarakat Dayak Bahau dan Dayak Modang. Tradisi ini dilakukan untuk mengenal jasa para leluhur yang sudah tiada dan dilakukan setiap selesai menanam padi. 

Mereka percaya bahwa ketika musim tanam, roh nenek moyang akan datang dan berada di sekeliling mereka. 

  • Tari Kancet Papatai adalah jenis tarian perang. Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah saat berperang melawan musuh.

Para penari yang menarikannya akan mengenakan baju perang lengkap dengan perisai. Ciri khas gerakan tarian ini sangat lincah, gesit dan penuh energi.

  • Tari Gantar adalah tarian yang banyak dilakukan oleh para pemuda suku Dayak Benuaq dan Dayak Tanjung di Kabupaten Kutai Barat.

Tarian ini mengekspresikan kegembiraan, kebahagiaan dan keramahan dalam menyambut pahlawan dari medang perang. Saat ini tar gantar dimainkan untuk menyambut wisatawan atau tamu kehormatan. 

  • Telingaan Aruu

Telingaan Aruu adalah salah satu kebudayaan suku Dayak yang cukup unik. Tradisi ini dilakukan oleh pria dan wanita. Tapi para pria tidak boleh memanjangkan telinganya hingga ke bawah bahu. 

Kalau untuk para wanita, mereka boleh memanjangkan telinganya sampai sebatas dada. Supaya semakin panjang, daun telinga dipasang logam dengan bentuk lingkaran yang terbuat dari bahan tembaga.

Proses penindikan ini sudah sejak lama ada. Tapi tidak semua sub suku Dayak menjalankan tradisi ini. Hanya beberapa kelompok saja yang mendiami pedalaman seperti Dayak Bahau, Dayak kenyah, Dayak Kayan, Dayak Kelabit dan Dayak Punan.  

Tradisi ini dilakukan dengan tujuan yang berbeda-beda. Untuk suku Dayak Kayan tujuannya adalah untuk menunjukan identitas bangsawan. Sementara untuk sub suku yang menempati desa-desa di hulu Sungai Mahakam adalah untuk menunjukan umur. 

Bagi wanita suku Dayak, telinga panjang adalah sebagai simbol kecantikan. Karena semakin panjang telinga, maka mereka menilai akan semakin cantik. 

  • Peninggalan Suku Dayak

Salah satu bentuk peninggalan suku Dayak adalah Candi Agung. Candi Agung adalah situs candi Hindu berukuran kecil yang terdapat di kawasan Sungai Malang, Kalimantan Selatan. Bangunan ini diperkirakan peninggalan Kerajaan Negara Dipa.

Candi Agung adalah peninggalan dari Kerajaan Negara Dipa Kahuripan yang dibangun oleh Empu Jatmika pada abad XIV Masehi. Usia batu ini sekitar 200 tahun SM. Candi ini didominasi oleh batu dan kayu. 

Sekilas batunya mirip seperti batu bata merah. Tapi, kalau diperhatikan terdapat perbedaannya, yaitu lebih berat dan lebih kuat dari batu bata merah biasa. Candi ini juga  masih kokoh sampai saat ini.

Demikianlah 6 warna-warni kebudayaan Suku Dayak yang menarik untuk kamu ketahui. Budaya-budaya ini masih tetap eksis dan bertahan sampai saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.