Keunikan Adat Istiadat Sumatera Utara Yang Tetap Eksis Hingga Saat Ini

Kamu sudah pasti tahu kan kalau Indonesia sangat terkenal dengan ragam adat istiadatnya. Banyak sekali berbagai macam adat istiadat dari Provinsi Sumatera Utara yang Unik dan tetap eksis hingga saat ini.

Sumatera Utara adalah salah satu Provinsi di Indonesia yang berlokasi di bagian utara Pulau Sumatera. Ibukota Sumatera Utara adalah Medan dengan jumlah penduduk terbesar keempat setelah Jawa barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Banyak adat istiadat di Sumatera Utara yang harus mendapat perhatian dari kita semua. Kamu harus mengenal budaya-budaya unik yang ada di Indonesia. 

Kalau sudah mengenal, maka kamu bisa mewartakannya kepada dunia, supaya semakin banyak orang yang mengenal betapa indah dan beragamnya budaya dan adat istiadat di Indonesia tercinta. 

Setiap suku dan adat istiadat memiliki tujuan tersendiri, baik dari segi penghormatan kepada leluhur atau dari segi lainnya. Masyarakat Sumatera Utara juga selalu menjaga dan melestarikan adat istiadatnya secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Budaya dan adat istiadat yang sudah ada sejak zaman nenek moyang pun harus tetap dijaga dan dilestarikan. Oleh karena itu, kamu bukan hanya sekedar mengenalnya namun juga bisa melaksanakannya. 

Kekayaan budaya dan adat istiadat juga sangat beragam misalnya ada tarian, musik, bahasa dan masih banyak lagi yang lainnya. Coba sesekali kamu perhatikan berbagai adat istiadat di tempat tinggalmu. 

Adapun keunikan adat istiadat yang ada di Sumatera Utara yang tetap eksis sampai saat ini adalah sebagai berikut:

Partuturan

Di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak, partuturan adalah kunci dari falsafah hidup yang biasanya menanyakan marga dari setiap orang Batak yang ditemui. 

Hal ini bisa digambarkan dengan ukiran 2 ekor cicak yang saling berhadapan yang menempel di kiri dan kanan Rumah Batak. Hubungan kekerabatan ini bisa juga menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah dan menentukan sikap terhadap orang lain dengan baik.

Manortor dan Margondang

Manortor adalah melakukan tarian seremonial yang diiringi dengan musik Gondang. Tortor adalah seni tarian Batak Sumatera Utara pada zaman dahulu. 

Seni ini merupakan sarana utama dalam melakukan berbagai ritual keagamaan yang masih bernafaskan mistik (kesurupan). 

Namun, saat ini manortor sering dijumpai pada acara pesta adat orang Batak dengan memainkan alat musik tradisional Gondang Sabangunan (alat musik lengkap). 

Dulu manortor berhubungan erat dengan pemujaan kepada Dewa-dewa atau roh-roh nenek moyang. 

Mangulosi

Mangulosi adalah memberikan ulos sebagai lambang kehangatan dan berkat bagi mereka yang akan menerimanya. Saat melakukan mangulosi ada peraturan yang harus diikuti, yaitu hanya orang yang dituakan yang bisa memberikan ulos. 

Contohnya, orang tua mangulosi anaknya, namun seorang anak tidak bisa mangulosi orang tuanya. Mangulosi sering kita lihat ketika ada acara pesta seperti berikut ini:

  • Saat anak lahir, sang bayi akan menerima “Ulos Parompa”
  • Ketika anak laki-laki melaksanakan pesta pernikahan, maka dia akan menerima “Ulos Hela” dari mertuanya.
  • Ketika meninggal dunia, jasad akan menerima “Ulos Saput”.

Dalihan Natolu

Dalihan adalah sebuah tungku yang terbuat dari batu. Jadi kalau dideskripsikan dalihan natolu adalah tungku tempat memasak yang diletakkan di atas 3 batu. 

Agar tungku tersebut bisa berdiri dengan baik, maka ketiga batu tersebut sebagai penopang haruslah berjarak seimbang dan tingginya juga harus sama. 

Hal ini merupakan falsafah yang diartikan sebagai kebersamaan yang cukup adil dalam kehidupan masyarakat Batak. 

Mangongkal Holi

Mangongkal Holi adalah salah satu tradisi Batak yang masih dilestarikan dan tetap eksis sampai saat ini. Mangongkal artinya menggali, sedangkan Holi artinya tulang. 

Jadi, mangongkal holi adalah menggali tulang, dimana dalam hal ini menggali kuburan manusia untuk pemindahan tulang orang yang sudah meninggal ke kuburan baru. 

Masyarakat Batak meyakini bahwa orang yang sudah meninggal dunia, maka bukanlah mati. Melainkan mereka menuju ke proses yang lebih sempurna di alam keabadian dan berkumpul dengan arwah keluarga mereka. 

Dengan adanya kepercayaan orang Batak yang sudah turun temurun tersebut, maka etnis Batak pun melakukan prosesi upacara mangongkal holi. Mangongkal holi juga bukan hanya sekedar memindahkan ke kuburan baru, namun juga membuat “Tugu Marga”.

Tarian Sigale-gale

Sigale-gale adalah patung yang menyerupai manusia, dan biasanya patung ini berada di rumah adat Batak Desa Tomok. Patung ini bisa digerakkan manusia yang berada di belakang patung Sigale-gale. 

Menurut legenda masyarakat Batak, Sigale-gale adalah putra tunggal kesayangan dari Raja Rahat. 

Tapi, Sigale-gale meninggal karena sakit. Sehingga Raja merasa kehilangan putra semata wayangnya. Lalu demi mengobati kesedihan Raja, maka dibuatlah sebuah patung yang menyerupai Sigale-gale.

Setelah itu, diadakan juga ritual memanggil arwah Sigale-gale. Sehingga patung tersebut bisa menari-nari dengan diiringi musik adat Batak. 

Saat ini, patung Sigale-gale menjadi daya tarik bagi wisatawan dan patung ini bisa digerakkan oleh 2 atau 3 orang.

Lompat Batu

Lompat Batu atau hombo batu berasal dari Desa Bawomataluo Nias, Kabupaten Nias Selatan. Desa ini kaya akan batu besar berukir dan didalamnya terdapat Omo Hada, yaitu perumahan tradisional suku Nias. 

Tradisi ini adalah ritual khusus untuk para pemuda suku Nias. Tujuan tradisi ini adalah untuk menentukan apakah seorang pemuda sudah dewasa dan sudah memenuhi syarat untuk menikah atau belum. 

Biasanya mereka akan melompati batu yang memiliki tinggi 2 m, melalui sebuah batu kecil untuk pijakan saat melompati batu. Ada juga terdapat ritual khusus sebelum melompati batu, mereka memakai pakaian ada supaya bisa melompati batu tersebut.

 Mangalahat Horbo

Mangalahat Horbo adalah upacara adat Sumatera Utara untuk orang Batak, sebagai petanda penyucian diri atau menebus dosa. Sehingga bisa mendapat kemakmuran dalam kehidupannya. 

Acara mangalahat horbo ini didasari oleh kepercayaan suku Batak kepada Sang pencipta alam semesta yang mampu menghapus dosa dan memberi kemakmuran dengan mengorbankan seekor kerbau jantan. 

Kerbau ini diikat pada sebuah tiang di tengah upacara yang dihias dengan berbagai macam daun-daun pilihan.

Marhajabuan

Salah satu tradisi adat istiadat di Sumatera Utara yang masih eksis sampai saat ini adalah upacara Marhajabuan. Marhajabuan adalah upacara pesta pernikahan yang wajib dilakukan oleh suku Batak. 

Dalam upacara ini kedua pasangan pengantin akan diberi pengalungan kain ulos sebagai tanda penghormatan.

Upacara marhajabuan ini juga wajib dilakukan oleh pasangan pengantin yang baru menikah. Biasanya upacara ini mengundang kerabat, tetangga dan tamu undangan lainnya. 

Upacara Belian

Upacara Belian adalah upacara untuk tolak bala yang biasanya ditujukan untuk 4 hal, yaitu mengobati orang sakit, membantu orang hamil yang sulit melahirkan, mengobati kemantan dan menolak semua wabah penyakit.

Suku yang masih terus melaksanakan upacara adat ini adalah suku Petalangan, suku yang terbesar di Riau. 

Biasanya upacara adat ini dilakukan pada malam hari, di rumah orang sakit atau di rumah adat yang besar. Sehingga banyak penduduk yang hadir. 

Demikianlah pembahasan mengenai keunikan adat istiadat Sumatera Utara yang tetap eksis sampai saat ini. 

Setiap adat dan istiadat selalu memiliki keunikan dan makna yang berbeda-beda. Semoga informasi ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.